For, aku seorang binatang jalang

For, I’m a bitch
For you, I’m a bitch
A periphery poet
Life in rebellion
In the days before and after independence
Together with young men with God
Ready to die for justice
Ready died for a victory
Ready die for a glory

Thousands of resistance
Millions with thought
Millions with a machete
Millions with blood sacrifices
Millions with irreplaceable lives

I’m a bitch
Longest alone in the bed rest
Live a thousand years in peace
Leaving a thousand words of struggle
Timeless
And not obsolete by leadership

Where there is oppression
That’s where your words incite rebellion
Where there is injustice
That’s where your writing is read
To simply ignite the struggle
For a mere forgotten soul burner
From the thirsty youth of learning
And of the generation who forgot about blood and sanctity
Because you’re a bitch
Your verses will not go out on the tombstone
Your poems will not die in burial ground
Though your body is embraced by my dear mother
Though your hands and your feet are covered with the earth of eternity
You are still a bitch

Kutai, 290412
Posted by Aru Jayawardhana at 9:54 PM Tuesday, April 1, 2014
Labels: Poetry, Rhymes

====================================================================================

Untuk, aku seorang binatang jalang
Untukmu, aku seorang binatang jalang
Seorang pujangga pinggiran
Hidup dijaman pemberontakan
Dimasa sebelum dan sesudah kemerdekaan
Bersama pemuda-pemudi berkeTuhanan
Rela mati untuk sebuah keadilan
Rela mati untuk sebuah kemenangan
Rela mati untuk sebuah kejayaan

Beribu perlawanan
Berjuta-juta dengan pemikiran
Berjuta-juta dengan sebilah parang
Berjuta-juta dengan darah pengorbanan
Berjuta-juta dengan nyawa tak tergantikan

Aku seorang binatang jalang
Terbujur sendiri dipembaringan
Hidup seribu tahun dalam kedamaian
Meninggalkan beribu kata perjuangan
Tak lekang oleh jaman
Dan tak usang oleh kepemimpinan

Dimana ada penindasan
Disanalah kata-katamu menyulut pemberontakan
Dimana ada ketidak adilan
Disanalah tulisanmu dibacakan
Untuk sekedar penyulut perjuangan
Untuk sekedar pembakar jiwa yang terlupakan
Dari pemuda-pemuda yang haus pembelajaran
Dan dari generasi yang lupa akan darah dan kesucian
Karena engkaulah seorang binatang jalang
Bait-baitmu tak kan padam diatas batu nisan
Syair-syairmu tak kan mati dalam tanah pemakaman
Walau jasadmu dipeluk erat ibunda tersayang
Meski tangan dan kakikimu terselimuti tanah keabadian
Engkau tetap seorang binatang jalang

Kutai, 290412
Posted by Aru Jayawardhana at 9:54 PM Tuesday, April 1, 2014
Labels: Puisi, Sajak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *