pen (pena)

pen

For pen’s sake
And for the sake of black ink
And a piece of paper that faithfully accompanied him
This meaningless word does not last long
Because his words came out of a venomous tongue
Unexpected and unnoticed
Ends faded, goes out and is gone extinct

Read each written reading
Study each painted passage
This reading was not created mystically
Because this reading is realistic
Not a romantic reading
And not a reading for those who are atheists

These words are eternal
When a pen is dancing
In the ink droplets that always pursue
On paper lying alone
A combination of black and white
Eternal, until all die

If the pen and ink are not created
What is the meaning of a life
Until words can not be written
And writing can not be described
Lost with wind and solitude
Dark like a night without star and moon rays

And when all the trees are made into a pen
All oceans are made into ink
Until added seven of them
Not enough to write and illustrate all
Although this writing and painting fulfill everything
Between space sky, earth, moon, stars and do not know where the end

Writing and painting is only a few know
Of most those who do not want to know and meet
With you who can not read and write anything
But understand, understand and know the ins and outs of the seven sky
Because you are a follower, one spreader and teacher
One, who writes and describes everything that is learned

090909
Posted by Aru Jayawardhana at 6:49 AM Sunday, July 4, 2010
Labels: Poetry, Rhymes, Poetry

====================================================================================

pena

Demi pena
Dan demi hitamnya tinta
Serta secarik kertas yang setia menemaninya
Perkataan tiada arti ini tak ‘kan bertahan lama
Karena kata – katanya keluar dari lidah yang berbisa
Tak terpikir dan tak terasa
Berakhir pudar, padam dan ‘kan punah

Bacalah tiap bacaan yang tertulis
Pelajarilah tiap bacaan yang terlukis
Bacaan ini tidak diciptakan secara mistis
Karena bacaan ini bersifat realistis
Bukan bacaan dengan kata romantis
Dan bukan bacaan bagi mereka yang atheis

Kata – kata ini ‘kan abadi
Ketika sebuah pena menari – nari
Dalam tetesan tinta yang slalu meniti
Diatas kertas yang terbaring sendiri
Perpaduan antara hitam dan putih
Kekal, hingga semua mati

Andai pena dan tinta tidak diciptakan
Apalah arti sebuah kehidupan
Hingga perkataan tak dapat dituliskan
Dan tulisan tak bisa dilukiskan
Hilang terbawa angin dan kesunyian
Gelap bagai malam tanpa sinar bintang dan rembulan

Dan ketika semua pohon dijadikan pena
Seluruh samudera dijadikan tinta
Hingga ditambahkan lagi tujuh diantaranya
Tak ‘kan cukup ditulis dan dilukiskan semua
Walau tulisan dan lukisan ini memenuhi segalanya
Antara ruang langit, bumi, bulan, bintang dan tak tau ujungnya dimana

Tulisan dan lukisan ini hanya sedikit yang tau
Dari kebanyakan mereka yang tak mau tau dan bertemu
Denganmu yang tak pandai membaca dan menulis sesuatu
Tapi paham, mengerti dan tau seluk – beluk langit yang tujuh
Karena engkau penganut, penyebar dan pengajar yang satu
Satu, yang menulis dan melukiskan segala sesuatu yang berilmu

090909
Posted by Aru Jayawardhana at 6:49 AM Sunday, July 4, 2010
Labels: Puisi, Sajak, Syair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *