Kultur Batch, Fedbatch Dan Continuous

CultureCULTURE. In its most simple sense, culture is that portion or aspect of thought and habits that’s realized and capable of being taught to others. Culture includes customs and worldviews that present a psychological mannequin of actuality and a guide for acceptable and moral action. Languages are cultural in that they’re realized symbolic data units and are some of the vital means of encoding ideas and knowledge for memory and communication. All religions are cultural and all types of spirituality exist within broader traditions or cultures.

Guanipa (1998) menambahkan bahwa perasaan tidak nyaman akibat culture shock tidak hanya melulu reaksi emosioanl, tetapi juga meliputi reaksi fisik yang diderita individu ketika mereka berada di tempat yang berbeda dari tempat asalnya. Pengalaman ini juga bisa disebabkan bukan saja karena budaya, dan norma-norma masyarakat yang berbeda, tetapi juga karena iklim, makanan, teknologi yang berbeda dari negara asal dengan negara yang didatanginya. Berbagai keberbedaan tadi menimbulkan perasaan asing, kehilangan orientasi dan kebingungan. Milton (1998) mengamati bahwa pengalaman culture shock itu sendiri bisa sangat unik antara satu orang dengan yang lain, karena berbagai penyebab yang sifatnya bervariasi pula antara satu individu dengan individu lain, maupun antara satu dan budaya lain yang dimasuki individu tersebut.

Lawan dari high culture” adalah popular culture” (budaya populer). Budaya populer terdiri atas segala aktivitas yang tersebar luas di dalam sebuah kebudayaan, dengan daya tarik dan tersedianya akses bagi seluruh orang, dan digandrungi oleh sejumlah besar orang lintas kelas sosial. Contoh dari budaya populer ini adalah restoran fast-food (Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut, Warung Tegal, Rumah Makan Padang, McDonald, komedi-komedi situasi di televisi, novel-novel finest vendor (Davinci Code, Malaikat dan Iblis, atau novel-novel karya Mira W.), konser musik pop dan rock, dan sejenisnya.

Dalam penelitian Chapdelaine (2004) ini ternyata tidak ditemukan hubungan langsung antara besarya perbedaan budaya dengan culture shock yang dialami individu. Penelitian ini juga tidak menemukan hubungan antara besarnya paparan terhadap budaya yang berbeda di masa lalu dengan culture shock yang dialami oleh individu. Kedua hal ini mungkin mengindikasikan bahwa yang menjadi hal penting untuk menghindari culture shock adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri, dan belajar dari budaya-budaya baru yang pernah dimasukinya. Meskipun budaya begitu berbeda, ataupun minimnya paparan terhadap budaya yang berbeda sebelumnya, tapi dengan kemauan untuk belajar, maka memungkinkan individu tadi untuk menyikapi dengan baik keberbedaan yang ada dan membantu individu untuk mengatasi culture shock.

Meskipun kemungkinan terjadinya culture shock semakin banyak di Indonesia, namun minat untuk membahas mengenai culture shock ini belum banyak ditemui dalam berbagai literature di Indonesia. Mengingat hal tersebut, penulis memandang perlunya mengangkat topik culture shock ini dalam pembahasan ilmiah di Indonesia. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran mengenai fenomena culture shock, faktor-faktor penyebab dan kemungkinan-kemungkinan untuk mengatasi terjadinya culture shock berdasarkan berbagai literature dan hasil riset. Diharapkan melalui tulisan ini pembaca akan mendapatkan wawasan yang cukup mengenai culture shock dan dapat memetik manfaat agar dapat menggunakan informasi ini untuk membantu diri sendiri ataupun orang lain agar terhindar dari culture shock, ataupun mampu mengatasi culture shock saat berada di budaya yang berbeda. Selain itu. tulisan ini juga merupakan usaha untuk menambahkan minimnya literature mengenai culture shock di Indonesia. Bila memungkinkan tulisan ini juga diharapkan dapat membuka wawasan bagi pembacanya atas peluang-peluang riset yang mungkin dilakukan mengenai fenomena culture shock di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *