Fenomena Culture Shock

CultureGlobalization has allowed increasingly people to encountere new culture as sojourners. The experience of having a shock culture will likely be extra widespread to be skilled by extra folks. This article tackles in regards to the subject of culture shock, included its origin, symptoms, different theories that designate about it, and suggestion to handle culture shock.

Meskipun kemungkinan terjadinya culture shock semakin banyak di Indonesia, namun minat untuk membahas mengenai culture shock ini belum banyak ditemui dalam berbagai literature di Indonesia. Mengingat hal tersebut, penulis memandang perlunya mengangkat topik culture shock ini dalam pembahasan ilmiah di Indonesia. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran mengenai fenomena culture shock, faktor-faktor penyebab dan kemungkinan-kemungkinan untuk mengatasi terjadinya culture shock berdasarkan berbagai literature dan hasil riset. Diharapkan melalui tulisan ini pembaca akan mendapatkan wawasan yang cukup mengenai culture shock dan dapat memetik manfaat agar dapat menggunakan informasi ini untuk membantu diri sendiri ataupun orang lain agar terhindar dari culture shock, ataupun mampu mengatasi culture shock saat berada di budaya yang berbeda. Selain itu. tulisan ini juga merupakan usaha untuk menambahkan minimnya literature mengenai culture shock di Indonesia. Bila memungkinkan tulisan ini juga diharapkan dapat membuka wawasan bagi pembacanya atas peluang-peluang riset yang mungkin dilakukan mengenai fenomena culture shock di masa mendatang.

Menurut pendekatan ini, ketidakmampuan adaptasi terjadi karena individu tidak memahami sistim hadiah dan hukuman” yang berlaku di kultur yang baru, dimana sistim hadiah dan hukuman ini bisa saja tergambar dalam perilaku verbal maupun nonverbal dalam kultur tersebut (Anderson dalam Chapdelaine, 2004). Dalam hal ini, bisa saja terjadi, hal yang di kultur asal dianggap sebagai hal yang dianggap baik, sehingga mendapatkan hadiah, mungkin di kultur baru dianggap buruk, sehingga mendapatkan hukuman. Misalnya saja: di Indonesia menanyakan Mau kemana? Dari mana? Sudah mandi atau belum?” pada teman dianggap sebagai perhatian dan kepedulian. Bisa saja di negara yang lain dianggap terlalu mencampuri urusan orang dan membuat orang tersinggung.

Selain itu juga ditemukan bahwa semakin besar jumlah orang sebangsa yang ada di negara tersebut, semakin rendah tingkat interaksi individu dengan penduduk asli. Selanjutnya juga ditemukan bahwa bila siswa internasional tadi datang dengan membawa keluarga, maka semakin rendah pula interaksinya dengan penduduk asli. Kedua hal ini bisa dipahami karena adanya orang-orang senegaranya, maupun keluarganya, maka individu cenderung menjalin interaksi dengan orang-orang senegaranya maupun keluarganya. Hal ini semakin kuat terlihat pada mereka yang sibuk mengerjakan urusan studinya, sehingga pada sisa waktu yang dimilikinya di luar kesibukannya untuk sekolah, individu lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dianggapnya dekat dan memahaminya (dalam hal ini keluarganya maupun orang-orang yang sebangsa dengan dirinya). Sementara itu, penelitian Lin (2007) menemukan bahwa interaksi dengan rekan sesama bangsa tidak terlalu banyak membantu untuk mengatasi culture shock apabila tidak dibarengi dengan program-program orientasi untuk memberikan dukungan sosial untuk terjadinya penyesuaian intercultural.

Di antara beberapa persoalan penyesuaian diri yang dialami para siswa ini, salah satu persoalan yang dianggap sebagai challenge mendasar yang khas dialami oleh siswa-siswi internasional adalah adanya fenomena culture shock. Fenomena culture shock dianggap menjadi persoalan mendasar bagi para siswa internasioanal karena seringkali fenomena inilah yang menjadi akar dari berbagai kesulitan penyesuaian diri yang dialami oleh siswa-siswi internasional. Hal ini terjadi dikarenakan kultur bisa menjadi kompas bagi arah perilaku, dan menuntun cara berpikir dan berperasaan individu. Ketika individu berada dalam kultur yang berbeda, ia bisa mengalami kesulitan bila kompas yang digunakannya tidak menunjukkan arah yang sama dengan kompas budaya setempat. Mengingat hal itu, maka pembicaraan mengenai penyesuaian diri siswa-siswi internasional tidak dapat dilepaskan dari akar persoalan mereka saat berada di lingkungna yang baru, yaitu pengalaman culture shock.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *