What Is A Democratic Culture?

What Is A Democratic Culture?

CultureMiddle English (denoting a cultivated piece of land): the noun from French culture or straight from Latin cultura ‘rising, cultivation’; the verb from out of date French culturer or medieval Latin culturare, both based on Latin colere ‘tend, cultivate’ (see cultivate). In late Middle English the sense was ‘cultivation of the soil’ and from this (early sixteenth century), arose ‘cultivation (of the thoughts, faculties, or manners’); culture (sense 1 of the noun) dates from the early 19th century.

Menurut pendekatan ini, ketidakmampuan adaptasi terjadi karena individu tidak memahami sistim hadiah dan hukuman” yang berlaku di kultur yang baru, dimana sistim hadiah dan hukuman ini bisa saja tergambar dalam perilaku verbal maupun nonverbal dalam kultur tersebut (Anderson dalam Chapdelaine, 2004). Dalam hal ini, bisa saja terjadi, hal yang di kultur asal dianggap sebagai hal yang dianggap baik, sehingga mendapatkan hadiah, mungkin di kultur baru dianggap buruk, sehingga mendapatkan hukuman. Misalnya saja: di Indonesia menanyakan Mau kemana? Dari mana? Sudah mandi atau belum?” pada teman dianggap sebagai perhatian dan kepedulian. Bisa saja di negara yang lain dianggap terlalu mencampuri urusan orang dan membuat orang tersinggung.

Banyak istilah-istilah yang muncul sehubungan dengan budaya semisal : berbudaya”, tidak berbudaya”, budaya tinggi”, budaya rendah”, folks art, budaya populer” (fashionable culture), budaya massa” (mass culture), dan sebagainya. Tulisan kemudian dilanjutkan guna menelusuri konsep-konsep ini. Namun, untuk keperluan tulisan ini, penulis akan mempertentangkan four buah konsep budaya saja yaitu : (1) Folk Culture; (2) High Culture; (three) Popular Culture; dan (4) Mass Culture. Tugas utama customer support adalah memberikan pelayanan dan membina hubungan baik dengan masyarakat, sehingga harus ditekuni dengan penuh kemampuan, kecekatan dan kesabaran. Langkah-langkah yang ulung itu, dalam dunia puisinya, adalah saat bagi sang penyair memainkan larik dan baitnya, atau bidaknya, ke dalam simbiose bentuk dan isi yang melekat seolah roh dan badannya. Sehingga dunia puisi menjadi sebuah totalitas bentuk dan makna yang dikandungnya. Bentuk yang mengatasi bentuk – tipografi yang mungkin memberi arah makna lain – makna yang mengatasi makna – makna lain dari dunia benda, yang disembunyikan ke dalam suatu permainan dengan pembaca.

If we mix our previous definition of in style” with the digicam’s view of culture” then we have now a well-liked culture” which refers to the products of human work and thought which are (or have been) accepted and accepted of by a big group of population.” This definition ignores notions of high quality” within the culture.. Popular culture kinds the vast majority of the artifacts and events which compose our each day lives but it surely does no include our total culture. Aktivitas dalam budaya tinggi tidak terbuka bagi seluruh anggota masyarakat akibat beberapa alasan. Tingginya harga tiket yang dibayarkan untuk menonton pertujukan konser musik klasik mustahil terjangkau oleh warga dengan kelas ekonomi menengah ke bawah. Demikian pula, literatur filsafat dan ilmiah, kendati banyak tersedia di toko-toko buku, tetapi kerumitas isi dan ketidakfamiliaran bahasa membuat warga awam emoh” mengkonsumsinya. Budaya tinggi disebut elit akibat hanya segelintir individu di dalam masyarakat yang dapat mengecapnya.

Menurut pendekatan ini, culture shock merupakan pengalaman transisional dari kondisi kesadaran yang rendah akan diri dan kultur, ke kesadaran yang tinggi akan diri dan kultur (Adler, 1975; Bennett, dalam Chaldelaine, 2004). Menurut pendekatan ini, culture shock terjadi karena mereka tidak dapat lagi menggunakan referensi-referensi/nilai-nilai kulturnya untuk memvalidasi aspek penting kepribadiannya. Misalnya bila di kultur asalnya ia meyakini dirinya adalah anak baik-baik karena tidak pernah minum-minuman di bar, tidak melakukan seks bebas dengan lawan jenis,dll. Tetapi di lingkungan yang baru, ia tidak dapat menggunakan standar anak baik” sebagaimana yang digunakan di kultur asalnya. Di tempat yang baru, kondisi ini justru membuatnya dicap sebagai anak ketinggalan jaman, kuno dan kolot”. Dalam proses inilah seringkali individu mempertanyakan kembali keyakinan-keyakinan yang dulu pernah dimilikinya, bahkan mempertanyakan kembali konsep dirinya yang sebelumnya diyakini selama ini. Hal ini seringkali menimbulkan krisis tersendiri bagi individu tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *